Minggu, 15 Maret 2015

EVALUASI ANAK AUTIS



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak autis merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan yang khas mencangkup persepsi, linguistik, kognif, komunikasi dari yang ringan sampai yang berat, dan seperti hidup di dalam dunianya sendiri, ditandai dengan ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal dan non verbal dengan lingkungan eksternalnya. Anak autis yang mempunyai gangguan khas tersebut membutuhkan pembelajaran. Meskipun di samping itu mereka mempunyai beragam permasalahan yang sangat kompleks dan luas, dimana satu masalah dapat menjadi pencetus pada masalah lainnya.
Beragam masalah belajar yang melingkupi anak autis tersebut dapat diminimalisir dengan adanya layanan belajar yang sesuai. Diantaranya dengan model segregasi dan modal inklusi. Layanan model segregasi ini lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Luar Biasa [ SLB] atau sekolah khusus. Sedangkan inklusi adalah sebuah pendidikan dimana merangkul dan menerima keragaman. Model ini memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang berkebutuhan khusus dan peserta didik pada umumnya untuk mengikuti pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama.
Pada pembahasan kali ini akan lebih mengaitkan pembelajaran anak autis secara inklusi. Di dalam fase pembelajaran anak autis membutuhkan program pembelajaran yang tepat. Tetapi di sisi lain, selain program pembelajaran yang diberikan, seorang pendidik juga memerlukan evaluasi atau penilaian terhadap program pembelajaran yang sudah diimplementasikan tersebut. Mengingat betapa pentingnya penilaian yang dilakukan terhadap perkembangan belajar anak autis, di dalam makalah ini akan dibahas mengenai hal tersebut.

B. Tujuan Penulisan

Makalah ini disajikan dengan harapan dapat memberikan informasi mengenai evaluasi atau penilaian yang sesuai untuk anak autis. Agar dapat meminimalisir masalah-masalah yang menghambat anak autis dalam belajar.

C. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan evaluasi?
2. Bagaimana cara melaksanakan evaluasi?
3. Apa saja manfaat evaluasi?
















BAB II
ISI

A. Pengertian Evaluasi

Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan, analisis tugas, pemberian tes untuk menafsirkan, mendeskripsikan tentang karakteristik seseorang, guna pengambilan keputusan tentang pelayanan bagi individu yang bersangkutan. Asesmen ini dimaksudkan untuk memahami keunggulan dan hambatan belajar siswa dan diharapkan program yang tersususn benar-benar sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan. Pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil berupa tugas, proyek dan/atau produk. Penggunan portofolio dan penilaian diri.
Pada pembelajaran terpadu peran evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran konvensional. Oleh karenanya sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi kegiatan pembelajaran baik dalam menggunakan pendekatan terpadu maupun konvensional adalah sama. Evaluasi pembelajaran terpadu diarahkan pada evaluasi dampak instruksional (instructional effect) dan dampak penggiring (nurturant effect), seperti halnya kemampuan bekerja sama, menghargai pendapat orang lain.
Dengan demikian, dari segi pertahanan, evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan, sedangkan dari segi sasaran, evaluasi difokuskan pada proses maupun produk pembelajaran, evaluasi proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan evaluasi hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil belajar yang dicapai menggunakan kriteria tertentu. Evaluasi proses menggunakan instrumen non tes, sedangkan evaluasi produk menggunakan instrumen tes. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Penilaian proses dan hasil pembelajaran itu saling berkaitan satu dengan yang lainnya, karena hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.

B. Prinsip-prinsip Penilaian

Penilaian bagi anak autis harus dilaksanakan dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut;

1.  Mengacu pada kemampuan yang harus diwujudkan
Penilaian dilakukan dan digunakan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai kompetensi atau kemampuan yang sesuai dengan yang telah ditargetkan pada progam atau rencana pembelajaran. Instrumen atau alat tes harus mampu merefleksikan setiap kemampuan yang ditargetkan guru dalam bentuk tujuan pembelajaran dalam program dan rencana pembelajaran.

2.  Berkelajutan
Penilaian harus memenuhi prinsip berkelajutan, karena setiap materi pembelajaran umumnya akan menjadi pra syarat untuk mengikuti pembelajaran materi selanjutnya. Hal ini perlu kehatian-hatian guru ketika menetapkan program pembelajaran karena akan menentukan bentuk ataupun alat penilaian. Guru dalam merancang alat penilaian harus mampu memetakan kompetensi dan keterkaitan kompetensi yang satu dengan kompetensi yang lainnya. Dan menetapkan kompetensi mana yang menjadi pra syarat bagi kompetensi berikutnya. Pemetaan ini biasanya dilakukan di awal semester.

3.  Memenuhi unsur didaktis
Alat tes yang akan digunakan harus memenuhi unsur-unsur didaktis, baik tes maupun non tes harus dirancang secara baik oleh guru dari segi isi, format, maupun lay out soal/alat evaluasi, agar tampilannya menarik bagi siswa, dan mampu memotivasi siswa untuk menyenangi tes yang dilakukan dan bahkan anak akan lebih menikmati proses penilaian tersebut. Untuk penilaian program pra akademik seorang anak autis tidak harus/selalu memerlukan alat tes tapi penilaian juga dapat dilakukan melalui observasi.


4.  Menggali informasi
Penilaian yang dilakukan guru harus mampu memberikan sejumlah informasi yang cukup bagi guru untuk membuat kesimpulan dari penilaian yang dilakukan. Dengan informasi yang cukup guru dapat membuat laporan penilaian secara lebih lengkap.

5.  Menemukan nilai-nilai positif dan negatif
Dalam melaksanakan penilaian, guru hendaknya memperhatikan saat proses penilaian dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa yang sesungguhnya. Nilai-nilai negatif sangat mungkin terjadi saat anak dievaluasi dalam kondisi yang tidak nyaman maupun pada saat kondisi anak yang mengalami tantrum.
Nilai-nilai positif bisa diperoleh dari jawaban siswa atas soal-soal mengenai hal-hal yang dianggap sulit oleh guru tetapi anak dapat mengerjakannya dengan baik dan berhasil. Apabila nilai positif ini lebih disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan asesmen, guru dan pimpinan sekolah harus segera melakukan asesmen ulang untuk selanjutnya mengoreksi program pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
6.  Memenuhi standar prosedur penilaian
Penilaian untuk anak autis memiliki prosedur yang sama dengan penilaian anak berkebutuhan khusus. Penilaian pada anak autis berbasis pada asesmen yang telah dilakukan yang dijadikan dasar penyusunan program pembelajaran.
 

C. Hal yang Harus Diperhatikan Guru dalam Menilai

Dalam melaksanakan penelitian bagi anak autis khususnya program pra akademik ada tiga hal yang harus diperhatikan guru dalam menilai keberhasilan anak dalam mencapai tujuan dan melaksanakan program pra akademik, yaitu;

1.  Frekwensi
Dari aspek frekwensi penilaian harus memperhatikan berapa kali sikap atau nilai positif dimunculkan anak. Apabila nilai atau sikap positif hanya muncul 1 atau 2 kali belum dapat dijadikan patokan bahwa anak telah berhasil dengan baik/sempurna.

2.  Kualitas
Dari aspek kualitas guru harus menetapkan standar kualitas kerberhasilan seorang anak, misalnya anak dapat melakukan kontak mata dengan guru atau dengan orang tua harus ditetapkan kualitasnya, berdasarkan hasil asesmen dapat menetapkan kualitas keberhasilan kontak mata untuk anak [x] misalnya dapat melakukan kontak mata 3 detik, anak secara kualitas dinyatakan berhasil.

3.  Reflek
Selain frekwensi dan kualitas guru juga harus mempertahankan respon atau reaksi anak ketika dilakukan evaluasi, misalnya guru ingin mengevaluasi pemahaman anak tentang nama diri, yang dinilai adalah reflek anak, anak dapat menengok ketika namanya dipanggil atau anak dapat bereaksi ketika namanya dipanggil.

D. Pelaksanaan Evaluasi

1. Evaluasi Proses
Evaluasi proses ini dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Hal ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara visual dan kongkrit.
Disamping itu untuk mengetahui sejauh mana proses yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.

2. Evaluasi Bulan
Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalan yang ditentukan atau dihadapi pembimbing di sekolah. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkan pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencari penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference.



3. Evaluasi Catut Wulan
Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak, maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampun akhir yang dikuasai anak, sebaiknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remidial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program.



E. Manfaat Evaluasi
1.    Untuk mengetahui identitas anak autis secara lengkap dan rinci.
2.    Untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kebutuhan anak autis.
3.    Pedoman untuk mengklasifikasikan dan menyusun program-program  kegiatan anak autis.
4.    Pedoman untuk menyusun program dan strategi pembalajaran.











BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

     Evaluasi adalah proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran anak Autis. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis kegiatan pembelajaran anak Autis berikutnya.
         
            Ada tiga cara dalam pelaksanaan pembelajaran anak Autis yaitu evaluasi proses,     bulan, caturwulan (3bulan) secara berkesinambungan


Maanfaat pelaksanaan evaluasi adalah untuk mengetahui identitas anak autis secara    lengkap dan rinci, tingkat kemampuan dan kebutuhan anak autis, pedoman untuk             mengklasifikasikan dan menyusun program-program kegiatan anak autis, pedoman untuk menyusun program dan strategi pembalajaran.


B.       Saran
     Dari hasil makalah yang telah dibuat, penulis menyarankan agar kita lebih peduli bagi anak-anak barkebutuhan khusus terutama bagi anak autis. Sebagai mansyarakat secara umum kita harus bisa menerima anak-anak tersebut.
Semoga makalah ini menjadi rujukan bagi kita untuk bisa memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak autis khususnya dalam pelakasanaan evaluasi dalam pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Koswara, Deded. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autis. Jakarta: PT. Luxima Metro Media.

AK, Mudjito, dkk. Pendidikan Anak Autis.

Syukron Zahidi, 2014, Cara Guru Melaksanakan Pembelajaran Terpadu. http://izzaucon.blogspot.com/2014/06/cara-guru-melaksanakan-pembelajaran.html. Diakses pada 10 Februari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar