BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Anak autis merupakan anak
yang mengalami gangguan perkembangan yang khas mencangkup persepsi, linguistik,
kognif, komunikasi dari yang ringan sampai yang berat, dan seperti hidup di
dalam dunianya sendiri, ditandai dengan ketidakmampuan berkomunikasi secara
verbal dan non verbal dengan lingkungan eksternalnya. Anak autis yang mempunyai
gangguan khas tersebut membutuhkan pembelajaran. Meskipun di samping itu mereka
mempunyai beragam permasalahan yang sangat kompleks dan luas, dimana satu
masalah dapat menjadi pencetus pada masalah lainnya.
Beragam masalah belajar yang
melingkupi anak autis tersebut dapat diminimalisir dengan adanya layanan
belajar yang sesuai. Diantaranya dengan model segregasi dan modal inklusi.
Layanan model segregasi ini lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Luar Biasa [
SLB] atau sekolah khusus. Sedangkan inklusi adalah sebuah pendidikan dimana
merangkul dan menerima keragaman. Model ini memberikan kesempatan kepada semua
peserta didik yang berkebutuhan khusus dan peserta didik pada umumnya untuk
mengikuti pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama.
Pada pembahasan kali ini
akan lebih mengaitkan pembelajaran anak autis secara inklusi. Di dalam fase
pembelajaran anak autis membutuhkan program pembelajaran yang tepat. Tetapi di
sisi lain, selain program pembelajaran yang diberikan, seorang pendidik juga
memerlukan evaluasi atau penilaian terhadap program pembelajaran yang sudah
diimplementasikan tersebut. Mengingat betapa pentingnya penilaian yang
dilakukan terhadap perkembangan belajar anak autis, di dalam makalah ini akan
dibahas mengenai hal tersebut.
B.
Tujuan Penulisan
Makalah ini disajikan dengan
harapan dapat memberikan informasi mengenai evaluasi atau penilaian yang sesuai
untuk anak autis. Agar dapat meminimalisir masalah-masalah yang menghambat anak
autis dalam belajar.
C.
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan evaluasi?
2. Bagaimana cara melaksanakan evaluasi?
3. Apa
saja manfaat evaluasi?
BAB II
ISI
A.
Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan,
analisis tugas, pemberian tes untuk menafsirkan, mendeskripsikan tentang
karakteristik seseorang, guna pengambilan keputusan tentang pelayanan bagi
individu yang bersangkutan. Asesmen ini dimaksudkan untuk memahami keunggulan
dan hambatan belajar siswa dan diharapkan program yang tersususn benar-benar
sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan
berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes
dalam bentuk tertulis maupun lisan. Pengamatan kinerja, pengukuran sikap,
penilaian hasil berupa tugas, proyek dan/atau produk. Penggunan portofolio dan
penilaian diri.
Pada pembelajaran terpadu peran evaluasi tidak berbeda dengan
pembelajaran konvensional. Oleh karenanya sebagai hal yang perlu diperhatikan
dalam mengevaluasi kegiatan pembelajaran baik dalam menggunakan pendekatan
terpadu maupun konvensional adalah sama. Evaluasi pembelajaran terpadu
diarahkan pada evaluasi dampak instruksional (instructional effect) dan
dampak penggiring (nurturant effect), seperti halnya kemampuan bekerja
sama, menghargai pendapat orang lain.
Dengan demikian, dari segi pertahanan, evaluasi dapat
dilakukan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan, sedangkan
dari segi sasaran, evaluasi difokuskan pada proses maupun produk pembelajaran,
evaluasi proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan evaluasi
hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil belajar yang dicapai
menggunakan kriteria tertentu. Evaluasi proses menggunakan instrumen non tes,
sedangkan evaluasi produk menggunakan instrumen tes. Hasil belajar tersebut
pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Penilaian proses dan hasil pembelajaran itu
saling berkaitan satu dengan yang lainnya, karena hasil belajar merupakan
akibat dari suatu proses belajar.
B.
Prinsip-prinsip Penilaian
Penilaian bagi anak autis
harus dilaksanakan dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip penilaian sebagai
berikut;
1. Mengacu pada kemampuan yang
harus diwujudkan
Penilaian
dilakukan dan digunakan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai
kompetensi atau kemampuan yang sesuai dengan yang telah ditargetkan pada progam
atau rencana pembelajaran. Instrumen atau alat tes harus mampu merefleksikan
setiap kemampuan yang ditargetkan guru dalam bentuk tujuan pembelajaran dalam
program dan rencana pembelajaran.
2. Berkelajutan
Penilaian harus memenuhi
prinsip berkelajutan, karena setiap materi pembelajaran umumnya akan menjadi
pra syarat untuk mengikuti pembelajaran materi selanjutnya. Hal ini perlu
kehatian-hatian guru ketika menetapkan program pembelajaran karena akan
menentukan bentuk ataupun alat penilaian. Guru dalam merancang alat penilaian
harus mampu memetakan kompetensi dan keterkaitan kompetensi yang satu dengan
kompetensi yang lainnya. Dan menetapkan kompetensi mana yang menjadi pra syarat
bagi kompetensi berikutnya. Pemetaan ini biasanya dilakukan di awal semester.
3. Memenuhi unsur didaktis
Alat tes yang akan digunakan
harus memenuhi unsur-unsur didaktis, baik tes maupun non tes harus dirancang
secara baik oleh guru dari segi isi, format, maupun lay out soal/alat
evaluasi, agar tampilannya menarik bagi siswa, dan mampu memotivasi siswa untuk
menyenangi tes yang dilakukan dan bahkan anak akan lebih menikmati proses
penilaian tersebut. Untuk penilaian program pra akademik seorang anak autis
tidak harus/selalu memerlukan alat tes tapi penilaian juga dapat dilakukan
melalui observasi.
4. Menggali informasi
Penilaian yang dilakukan
guru harus mampu memberikan sejumlah informasi yang cukup bagi guru untuk
membuat kesimpulan dari penilaian yang dilakukan. Dengan informasi yang cukup
guru dapat membuat laporan penilaian secara lebih lengkap.
5. Menemukan nilai-nilai
positif dan negatif
Dalam melaksanakan
penilaian, guru hendaknya memperhatikan saat proses penilaian dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa yang sesungguhnya. Nilai-nilai negatif sangat
mungkin terjadi saat anak dievaluasi dalam kondisi yang tidak nyaman maupun
pada saat kondisi anak yang mengalami tantrum.
Nilai-nilai positif bisa
diperoleh dari jawaban siswa atas soal-soal mengenai hal-hal yang dianggap
sulit oleh guru tetapi anak dapat mengerjakannya dengan baik dan berhasil.
Apabila nilai positif ini lebih disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan asesmen,
guru dan pimpinan sekolah harus segera melakukan asesmen ulang untuk
selanjutnya mengoreksi program pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
6. Memenuhi standar prosedur
penilaian
Penilaian untuk anak autis
memiliki prosedur yang sama dengan penilaian anak berkebutuhan khusus.
Penilaian pada anak autis berbasis pada asesmen yang telah dilakukan yang
dijadikan dasar penyusunan program pembelajaran.
C.
Hal yang Harus Diperhatikan Guru dalam Menilai
Dalam melaksanakan
penelitian bagi anak autis khususnya program pra akademik ada tiga hal yang
harus diperhatikan guru dalam menilai keberhasilan anak dalam mencapai tujuan
dan melaksanakan program pra akademik, yaitu;
1. Frekwensi
Dari
aspek frekwensi penilaian harus memperhatikan berapa kali sikap atau nilai
positif dimunculkan anak. Apabila nilai atau sikap positif hanya muncul 1 atau
2 kali belum dapat dijadikan patokan bahwa anak telah berhasil dengan
baik/sempurna.
2. Kualitas
Dari
aspek kualitas guru harus menetapkan standar kualitas kerberhasilan seorang
anak, misalnya anak dapat melakukan kontak mata dengan guru atau dengan orang
tua harus ditetapkan kualitasnya, berdasarkan hasil asesmen dapat menetapkan
kualitas keberhasilan kontak mata untuk anak [x] misalnya dapat melakukan
kontak mata 3 detik, anak secara kualitas dinyatakan berhasil.
3. Reflek
Selain
frekwensi dan kualitas guru juga harus mempertahankan respon atau reaksi anak
ketika dilakukan evaluasi, misalnya guru ingin mengevaluasi pemahaman anak
tentang nama diri, yang dinilai adalah reflek anak, anak dapat menengok ketika
namanya dipanggil atau anak dapat bereaksi ketika namanya dipanggil.
D.
Pelaksanaan Evaluasi
1. Evaluasi Proses
Evaluasi proses ini dilakukan dengan cara seketika
pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan
perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu
juga. Hal ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau
demonstrasi secara visual dan kongkrit.
Disamping itu untuk mengetahui sejauh mana proses yang
dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.
2. Evaluasi Bulan
Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan
perkembangan atau permasalan yang ditentukan atau dihadapi pembimbing di
sekolah. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan
perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkan
pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencari
penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macam apa
yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Hal ini
dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case
conference.
3. Evaluasi Catut Wulan
Evaluasi ini disebut juga
dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program
secara menyeluruh. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah
tercapai dan dapat dikuasai anak, maka kelanjutan program dan kesinambungan
program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampun akhir yang dikuasai anak,
sebaiknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan
pengulangan program (remidial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak
berhasilan pencapaian program.
E. Manfaat Evaluasi
1.
Untuk mengetahui identitas anak autis secara lengkap dan
rinci.
2.
Untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kebutuhan anak autis.
3.
Pedoman untuk mengklasifikasikan dan menyusun
program-program kegiatan anak autis.
4.
Pedoman untuk menyusun program dan strategi pembalajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Evaluasi adalah
proses pengukuran
akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran anak
Autis. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan
sebagai analisis kegiatan pembelajaran anak Autis berikutnya.
Ada tiga cara dalam pelaksanaan
pembelajaran anak Autis yaitu evaluasi proses, bulan,
caturwulan (3bulan) secara berkesinambungan
Maanfaat pelaksanaan evaluasi adalah untuk mengetahui identitas
anak autis secara lengkap dan rinci,
tingkat kemampuan dan kebutuhan anak autis, pedoman untuk mengklasifikasikan dan menyusun
program-program kegiatan anak autis, pedoman untuk menyusun program dan
strategi pembalajaran.
B.
Saran
Dari hasil makalah yang telah dibuat, penulis menyarankan agar
kita lebih peduli bagi anak-anak barkebutuhan khusus terutama bagi anak autis.
Sebagai mansyarakat secara umum kita harus bisa menerima anak-anak tersebut.
Semoga makalah ini menjadi
rujukan bagi kita untuk bisa memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak autis
khususnya dalam pelakasanaan evaluasi dalam pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Koswara,
Deded. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autis. Jakarta: PT.
Luxima Metro Media.
AK,
Mudjito, dkk. Pendidikan Anak Autis.
Syukron
Zahidi, 2014, Cara Guru Melaksanakan Pembelajaran Terpadu. http://izzaucon.blogspot.com/2014/06/cara-guru-melaksanakan-pembelajaran.html.
Diakses pada 10 Februari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar